Membangun Kebiasaan Komunikasi Positif Dosen-Mahasiswa

KONDISI AWAL

“Aku ini guru yang ditakuti murid lho, mbak. Anak-anak takut macam-macam kalau aku sudah marah,” begitu cerita seorang teman kepada saya. “Aku ini sering marah-marah kalau ada yang nggak bener. Aku sindir kalau ada yang nggak ngerjakan tugas, pendapatnya ngawur, atau pasif di kelas,” lanjutnya. Lhah, saya kaget. Ternyata ada ya guru yang bangga ketika ditakuti murid-muridnya? Kali lain, ada yang cerita, “Iya, aku ngomel-ngomel lah di kelas. Masak pas kuliah mainan HP sendiri, sempat selfie-selfie pula, padahal aku lagi nerangin di depan!” Dan sederet cerita lain tentang suasana kelas dan bagaimana seorang guru merespon perilaku muridnya.

Fakta di atas ternyata juga bisa terjadi di jenjang perguruan tinggi. Antara dosen dan mahasiswa. Lalu saya berpikir, ada apa ini dengan kemampuan komunikasi masing-masing orang di dalam civitas akademika? Yang satu tidak mampu mengutarakan maksud perilakunya dengan baik, yang satu merespon tindakan dengan cara yang tidak baik pula.

Apa indikator sebuah perilaku itu “tidak baik”? Mudahnya, ketika ada ketidaknyamanan dalam hubungan antarperson. Para pihak merasa menjadi korban atas perilaku orang lain. Dosen merasa menjadi korban atas mahasiswa yang mengabaikan tugas: merasa tidak dihargai, merasa tidak mampu mengajar dengan baik, berpikir strategi belajarnya gagal, hingga berpikir bahwa memang begitulah “anak-anak zaman now”, tidak sopan, tidak tahu tata krama, membandingkan dengan anak zaman old, dan seterusnya. Sedangkan bagi para mahasiswa, mereka merasa menjadi korban dosen antara lain karena: tugas terlalu banyak atau berat, sewaktu-waktu harus siap menjadi tempat luapan kemarahan atas peristiwa apapun di kelas, tidak pernah ditanya mau belajar model apa dan strateginya bagaimana, belum lagi tuntutan sosial untuk mendapatkan nilai bagus di semua mata kuliah. Jika dosen dan mahasiswa berpikir telah menjadi korban atas kehadiran satu sama lain, di mana letak hubungan yang sehat itu?

TANTANGAN

Tantangan yang saya rasakan, setelah berbicara dan mencoba menggali cerita dari kedua belah pihak, ada beberapa hal yang membuat komunikasi berjalan secara negatif. Sebelum membaca seterusnya, perlu diingat bahwa kisah ini didapat dari beberapa sampel dan tidak dapat digeneralisasikan pada semua orang, semua institusi pendidikan, dan semua situasi.

Pertama, sedikit atau banyak, dosen memiliki persepsi bahwa ia adalah subjek pendidikan sedangkan mahasiswa adalah objek. Apa yang terjadi kemudian? Pembelajaran terporos pada dosen, bahwa titah dosen adalah amanat, dan tidak ada celah untuk menolak titah tersebut. Tugas adalah mandat, dan mahasiswa sebagai objek wajib menyelesaikannya, seberat apapun itu. Jika tidak? Nilai melayang.

Kedua, dosen berpersepsi memiliki pekerjaan yang lebih berat daripada mahasiswa. Hasilnya? Tidak sempat memberi umpan balik tugas mahasiswa; belum sempat mengoreksi skripsi anak bimbingan dan tidak punya waktu bertemu, sehingga mahasiwa molor studi karena dosen sulit ditemui; mahasiswa menunggu berjam-jam di luar ruangan menanti kehadiran dosen yang hanya bilang “tunggu saja ya di kampus” tanpa memberi kepastian jam bertemu; hingga sama sekali tidak membalas pesan singkat dan membuat mahasiswa bingung.

Ketiga, mahasiswa berpersepsi bahwa semua keinginannya perlu untuk dipenuhi. Misalnya, keterlambatan kehadirannya dimaklumi; berharap ada penambahan waktu pengumpulan tugas; dan alasan laptop rusak, file hilang, fotokopian tutup, rental ngeprint ngadat, dapat diterima sepenuh hati oleh dosen.

Keempat, mahasiswa tidak mendapat teladan yang cukup dari para senior dan dosennya mengenai pola-pola komunikasi positif. Bagaimana mendapatkan teladan tentang sopan santun kepada yang lebih tua, jika pesan singkat saja tidak dibalas dosen. Bagaimana tepat waktu mengumpulkan tugas, jika dosennya sendiri sering telat masuk kelas (merasa bercermin nih, hehe). Bagaimana mau menyadari kesalahan, jika setiap berperilaku keliru, respon dosen selalu marah dan menyalahkan, alih-alih membantu menemukan sumber masalah dan mencari solusi. Bagaimana mau patuh aturan kelas, jika mahasiswa tidak diajak mendiskusikan aturan tersebut.

AKSI

Saya sendiri pun sebagai orang yang enam tahun belajar Psikologi di bangku kuliah juga kadang gagal berkomunikasi positif dengan mahasiswa. Ada hal-hal yang tetap saja membuat saya mudah terpancing emosi, memarahi, menceramahi sejam di kelas, menyindir, membuat rasa bersalah pada diri mahasiswa, dan bahkan nyinyir. Namun sejak saya berkomunitas dengan para pendidik dan mengikuti beberapa kegiatannya, membaca artikel-artikel terkait kebiasaan positif, nimbrung di obrolan grup pesan singkat, serta melihat profil para pendidik inspiratif, ada satu hal yang saya sadari perlu dilakukan: BERSIKAP REFLEKTIF.

Reflektif artinya kita selalu dalam posisi sebagai “subjek” di dunia pendidikan. Lingkungan boleh berjalan bagaimanapun, tapi ingat bahwa kita sendirilah yang menentukan mau bersikap seperti apa. Reflektif berarti juga mengambil pelajaran terkait sebuah tindakan atau strategi yang diterapkan dengan meminta umpan balik dari orang lain. Reflektif bermakna siap menerima kritik dan masukan orang lain dengan sikap terbuka. Reflektif itu bercermin, yang mana ketika tampak buruk, jangan cerminnya yang dibelah, tetapi subjek dalam cermin itu yang harus berubah.

Pada awal perkuliahan, saya mendengarkan curah pendapat mahasiswa tentang apa yang ingin dipelajari pada satu semester ke depan. Saya cocokkan dengan kurikulum panduan yang saya miliki. Saya juga bertanya, metode belajar seperti apa yang mereka harapkan dapat membantu memahami materi. Pelibatan sejak awal dengan diskusi santai di dalam kelas membuat mahasiswa tergambar apa yang akan mereka lalui selama satu semester ke depan. Bukan saja kuliah sebagai mandat dengan seperangkat aturannya yang tidak boleh ditolak.

Untuk beberapa tugas, saya memberikan umpan balik secara terbuka kepada mahasiswa. Jika sedang tidak sempat mengumpan balik satu per satu karena banyaknya jumlah mahasiswa, hingga ratusan dalam sesemester, saya biasanya membahas secara umum di kelas pada pertemuan selanjutnya. Untuk materi presentasi, baik tulisan maupun tugas video, bahkan saya meminta sesama mahasiswa untuk menilai hasil kerja teman-temannya sendiri.

Yang pernah saya terapkan adalah di kelas Psikologi Industri dan Organisasi. Video tentang tema Motivasi Kerja, Kepuasan Kerja, Perilaku Konsumen, dan Budaya Organisasi, diumpan balik oleh teman sekelas langsung setelah presentasi. Hasilnya mengagumkan. Ketika saya merasa kontennya kurang memadai, ternyata mahasiswa lain juga merasa begitu kok. Saat kualitas gambar banyak goyang dan tidak fokus, ternyata pendapat teman-temannya juga sama dengan pikiran saya. Ketika presenter tidak jelas memaparkan materi dan hanya mengeja dari slide yang dibuat, ternyata mahasiswa lain pun juga sama tidak pahamnya dengan saya. Artinya apa? Saya tidak perlu menakuti bahwa sayalah dosen yang paling punya hak prerogratif memberi nilai atas hasil belajar mereka. Buktinya, mereka di kelas bisa saling adil menyampaikan sejauh apa kualitas hasil belajar yang dicapai, dan saya hanya sebagai fasilitator pemandu diskusinya.

Akhir-akhir ini, saya merasa cukup punya waktu berlebih untuk memerhatikan bagaimana pola-pola komunikasi yang terjadi di kanal-kanal pesan singkat antara saya dan mahasiswa. Banyak sekali mahasiswa yang sudah bagus cara komunikasinya. Mendahului dengan salam, mengenalkan siapa dirinya, memohon maaf telah mengganggu waktu, menjelaskan keperluannya, dan diakhiri dengan ucapan terima kasih. Saya melihat hubungan antara bagaimana saya menjawab, dengan respon dia kembali kepada saya. Ketika saya positif, maka kalimat-kalimat mereka yang muncul pun positif. Dan sebaliknya.

Jujur, saya juga beberapa kali tidak langsung membalas pesan mahasiswa. Biasanya karena tidak sempat, terlupa, atau saya tidak senang dengan cara komunikasinya. Jika karena terlupa, saya akan minta maaf karena telat membalas, baru diikuti dengan jawaban yang diperlukan. Jika lama tidak saya balas karena kesal dengan isi pesannya yang tidak sopan, saya akan memberi jeda sejenak pada diri sendiri untuk meredam emosi. Menunda membalas beberapa jam atau baru esoknya. Saya amati dengan regulasi emosi yang seperti itu, ternyata membuat saya lebih nyaman dan mampu merespon secara lebih tenang dan proporsional. Tidak meledak-ledak dan berlebihan dalam memandang dan bereaksi atas stimulus yang tidak menyenangkan. Bahkan beberapa minggu lalu saya sempatkan membalas pesan singkat mahasiswa yang dikirimkan pukul 10 malam menanyakan tentang suatu materi. Saya balas esoknya di jam kerja, saya katakan dengan lugas yang intinya jika urusan kampus, tanyakan di jam kerja saja, tidak pukul 10 malam waktu tidur. Meskipun saya kadang masih begadang hingga tengah malam, bukan berarti saya selalu siap untuk ditanya urusan-urusan pekerjaan.

Panggilan saya kepada mahasiswa juga menunjukkan bagaimana saya menghargai kedudukan mereka. Saya biasa memanggil dengan sebutan “mas” dan “mbak” saja, jika tidak hafal namanya. Dengan demikian, sebaliknya mereka juga menghormati saya sebagai dosennya, sekaligus rekan belajar yang menyenangkan. Asyiiikkk. Sedangkan untuk mahasiswa yang berasal dari luar Jawa, perlu usaha lebih untuk memahami pola komunikasi mereka. Karena tahu, saya tidak berkenan bukan karena konten komunikasi yang disampaikan, tetapi lebih karena budaya bagaimana cara mereka menyampaikannya.

PELAJARAN

Pada akhirnya, membangun komunikasi positif itu susah-susah gampang. Kita harus bertarung dengan ego sendiri untuk mampu memahami seperangkat pikiran, perasaan dan sikap orang lain. Empati juga menjadi kunci. Pertanyaan semacam “Bagaimana kalau aku diperlakukan seperti dia ya? Apa yang akan aku pikirkan, rasakan dan lakukan? Bagaimana rasanya kalau menunggu dosen berjam-jam dan ternyata beliau tidak datang ya? Bagaimana rasanya jika mengirim pesan singkat penting sekali tapi hanya dibaca dan tidak dibalas? Bagaimana malunya aku jika disebut-sebut kesalahanku di depan umum ya?” dan seterusnya. Dengan belajar menempatkan diri seperti posisi orang lain, lebih mudah bagi kita untuk memahami apa yang terjadi dengannya dan merespon secara tepat. Yuk, mulai berkomunikasi dan memerlakukan anak didik sebagaimana kita ingin diperlakukan. Guru tidak sekedar digugu (dipatuhi), tetapi juga ditiru (diteladani).

Tulisan ini kali pertama diterbitkan di Surat Kabar Guru Belajar Edisi ke-3 Tahun Ketiga, Agustus 2018 oleh Komunitas Guru Belajar Nusantara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *