Literasi Itu Perkara Isi Kepala, Bukan Isi Buku

KONDISI AWAL

“Membaca buku, membaca buku, membaca buku!” Itu yang awalnya sering saya tekankan kepada mahasiswa. Mahasiswa tak membaca buku, mau jadi apa? Bagaimana bisa menulis dengan benar jika tak pernah membaca buku yang berkualitas baik? Bagaimana mengerjakan penelitian dengan betul, jika membaca jurnal saja malas? Menghindari buku berbahasa Inggris? Wassalam di masa depan. Mau mempertahankan argumen ketika presentasi bagaimana mungkin, jika yang dibaca dan ditulis ternyata tidak dipahami? Dan seterusnya. Saya terjebak pada pemahaman bahwa pendidikan tak pernah jauh dari perkara buku. Membaca dan menulis.

Kemudian di akhir semester, saya mendapati diri yang mengeluh soal mahasiswa dengan segudang masalahnya. Saat-saat koreksi hasil ujian adalah masa di mana saya merutuk tak henti mengapa bisa jawaban mereka begini dan begitu. Tak sesuai dengan perintah soal lah, tak paham maksud lah, mencomot sumber informasi dari internet yang tidak valid lah, hingga tak mampu menganalisis persoalan secara mendalam. Saya menimbang-nimbang, sebetulnya letak masalahnya di mana.

Saya menjadi teringat sepuluhan tahun yang lalu, ketika kali pertama mendengar istilah literasi. “Literate”, terpelajar. Dan “illaterate”, buta aksara. Justru dua kata berbahasa Inggris ini dulu yang lebih sering saya dengar daripada dibahasaindonesiakan menjadi “literasi”. Literate dan illaterate tentu waktu itu saya asosiasikan sebagai baca-tulis. Apa lagi? Lalu tahun 2014, seiring mengenal lebih banyak teman pemilik Taman Bacaan Masyarakat (TBM) yang bergerak di bidang literasi, biasa disebut pegiat literasi, saya baru memahami bahwa literasi bukanlah sekadar aktivitas membaca dan menulis. Jauh lebih luas maknanya daripada itu.

Sulit membayangkan ketika mereka mengatakan bahwa menonton film, bermusik, berteater, menari, mendesain bangunan, dan berpuisi adalah sebuah aktivitas literasi.

“Jadi… Hmmm… Dimana letak literasinya?” tanya saya polos.

“Proses menerima informasi, mencerna, membuat gagasan, hingga mencipta karya nyata, itulah literasi,” ujar teman.

“Tapi menari, main teater, main musik, kan nggak pakai buku?” sanggah saya.

“Siapa bilang literasi melulu soal buku?” pungkasnya.

Puncaknya pada tahun 2018, saya mendapati bahwa istilah literasi seolah bisa dilekatkan pada apapun. Saya mulai mengenal yang disebut dengan literasi numerasi, literasi finansial, literasi digital, literasi sains, literasi budaya, bahkan terakhir saya mengikuti seminar umum bertajuk literasi politik yang dibawakan oleh pakarnya, Pak Gun Gun Heryanto, di kampus. Wow, sebegitu luasnya perkembangan cakupan literasi saat ini. Dan saya semakin yakin bahwa literasi itu ternyata soal bagaimana mendayagunakan pikiran dalam menghadapi hal-hal di sekitar. Tentang bagaimana manusia berpikir soal angka-angka, membaca tanda alam akan terjadinya fenomena, melestarikan kebudayaan nenek moyang, menggunakan teknologi informasi, merencanakan keuangan, hingga menyikapi politik bangsa. Tentu literasi tidak bisa diterapkan secara serampangan, melainkan tetap butuh pijakan berpikir yang kuat. Darimana pijakan itu? Di sinilah letak pentingnya buku dan sumber bacaan lain yang relevan.

Ilmuwan tidak mungkin yakin mengatakan akan datang tsunami, jika dia tidak paham dan membaca banyak literatur yang mengungkap penelitian soal tsunami. Pakar finansial tidak mungkin berani memberikan saran investasi dan perencanaan keuangan perusahaan, jika dia tidak membaca buku-buku soal itu. Pak Gun Gun yang saya sebutkan tadi, beliau profesor Ilmu Politik UIN Jakarta dengan jumlah penelitian tak terhitung dan produktif menerbitkan buku. Contoh lain, almarhum Pak Nukman Luthfie, beliau dikenal luas sebagai konsultan, pembicara, dan pakar media sosial, tentu berkat berkutat dengan buku juga. Karena memang seorang yang memiliki kepakaran atau kahlian di bidang tertentu, tak boleh bicara tanpa data dan membaca.

Nah, jika sampai di sini kita telah bersepakat bahwa inti dari literasi adalah keterampilan menggunakan daya pikir untuk merespon lingkungan, lalu sebenarnya apa yang ingin dicapai dari literasi itu sendiri? Saya mendapatkan jawabannya ketika mengikuti Residensi Literasi selama empat hari di Jambi, yang diadakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Tujuan mengapa setiap individu perlu menjadi literat atau menguasai literasi adalah untuk menjadi cakap dan meningkatkan taraf hidupnya, dalam konteks beragam sesuai kebutuhan individu tersebut. Pedagang perlu literasi agar tidak tertipu dan bisa menaikkan laba bisnis. Petani perlu literasi agar hasil panennya melimpah dengan biaya efisien. Remaja perlu literasi dalam bermedia sosial, agar mampu memilah dan menyampaikan informasi yang bermanfaat bagi orang lain. Orangtua perlu literasi agar bisa memutuskan apakah lebih menguntungkan membeli rumah dan sepeda motor secara tunai atau kredit. Dosen perlu literasi untuk lebih sistematis dalam membuat rencana pembelajaran, aksi, hingga evaluasi belajar. Mahasiswa perlu literasi untuk mengembangkan daya nalar, berpikir kritis, membuat penelitian yang valid dan reliabel, serta mengambil keputusan hidup dengan benar. Dan seterusnya.

TANTANGAN

Sebagai dosen Psikologi, saya memiliki cerita soal bagaimana menerapkan literasi ketika pembelajaran di kelas. Setelah mengetahui bahwa literasi adalah soal apa yang ada di kepala, saya mengubah ajakan kepada mahasiswa dari sekadar “Ayo membaca buku!”, menjadi “Ayo berpikir!”

Tantangan yang saya hadapi adalah harus mengalokasikan lebih banyak waktu ketika berproses di kelas. Lebih banyak daripada hanya ceramah di depan mahasiswa. Mata kuliahnya adalah Psikologi Industri dan Organisasi dengan tema “Rekrutmen dan Seleksi Tenaga Kerja”. Bertahun-tahun saya dan rekan kerja kerap mendapatkan pertanyaan serupa: Bagaimana sih agar lolos seleksi kerja? Kira-kira, apa saja yang akan ditanyakan saat wawancara kerja? Psikotes itu untuk mengetahui apa sih? Bagaimana trik dan tipsnya agar lolos psikotes? Kenapa saya selalu gagal ketika sudah sampai tahap wawancara? Sebetulnya apa yang dicari perusahaan dari seorang pelamar?

Lelah sekali menjawab setiap pertanyaan tersebut dengan jawaban yang sebetulnya begitu-begitu saja. Hehehe. Saya berpikir, ya sudah, sekalian saja mahasiswa Psikologi dibekali dengan bagaimana proses terjadinya sebuah keputusan dalam manajemen sumber daya manusia. Agar ketika ada pertanyaan seputar rekrutmen dan seleksi tenaga kerja, mereka mampu menjawabnya dengan baik dan benar.

AKSI

Langkah pertama, masing-masing mahasiswa saya minta untuk mencari contoh lowongan kerja dari perusahaan apapun, posisi apapun, dan dari media manapun. Boleh dari koran, majalah, facebook, instagram, twitter, atau laman perusahaan.

Ke dua, dengan duduk melingkar per kelompok empat orang, kami membedah masing-masing isi lowongan tersebut di kelas. Mulai dari di mana saja mereka menemukan lowongan itu, unsur lowongan kerja (apa saja yang harus dicantumkan), mencermati perbedaan antarlowongan, hingga menganalisis kalimat per kalimat yang tercantum di dalamnya. Kami mendiskusikan beberapa hal berikut:

  • Mengapa perusahaan A memasang lowongan kerja di koran, sedangkan perusahaan B di instagram?
  • Mengapa perusahaan A dan B yang sama-sama mencari Staf Marketing, tetapi syarat yang diberikan berbeda?
  • Mengapa perusahaan swasta membuka lowongan secara lebih dinamis, sewaktu-waktu, dengan bahasa lebih fleksibel; sedangkan lowongan CPNS dibuka secara terpusat oleh kementerian, serentak seluruh Indonesia, dan sifatnya formal?
  • Mengapa ada lowongan yang isinya panjang, ada yang sangat pendek?
  • Mengapa antara bentuk usaha CV, PT, dan BUMN memiliki kekhasan dalam bahasa tulis? Dan lain-lain.

Ke tiga, setelah mahasiswa melalui proses menerima informasi – memahami – mengolah – dan menyampaikan gagasan atas jawaban-jawaban tersebut, saya meminta mereka untuk membuat lowongan kerja fiktif berdasarkan perusahaan idaman mereka sendiri. Seru sekali, karena ternyata mereka ada yang ingin membuka usaha cafe, penitipan hewan ternak, toko baju daring, restoran, sekolah, dan yang lain. Mereka mencoba menerapkan dari pengetahuan yang didapat dari analisis sebelumnya, ke sebuah produk baru sesuai kebutuhan.

Ke empat, saya jabarkan pula bagaimana proses membuat syarat atau kualifikasi calon pelamar yang dibutuhkan dari sebuah jabatan dan perusahaan tertentu. Caranya adalah dengan membedah itu perusahaan apa, visi-misi-tujuannya apa, struktur organisasinya bagaimana, lalu letak posisi yang dibuka lowongannya itu di mana. Perlu dibuat job description atau uraian jabatan terlebih dahulu, sehingga kita tahu apa yang diharapkan dilakukan dari jabatan tersebut. Dengan job desc yang jelas, maka akan lebih mudah membuat job specification atau spesifikasi jabatan seperti apa yang tepat. Selanjutnya, job spec yang jelas akan memudahkan seorang HRD atau bagian manajemen perusahaan menentukan cara seleksi seperti apa yang paling tepat untuk mencari orang yang sesuai dengan spesifikasi yang telah ditetapkan. Apakah seleksinya menggunakan metode wawancara, atau psikotes tertulis, presentasi, diskusi kelompok, observasi kerja, tes bidang, atau tes fisik dan kesehatan.

Meskipun dengan proses yang panjang, yaitu 2 x 3 SKS atau dua kali pertemuan yang membutuhkan banyak tenaga dan stok kesabaran yang melimpah, tetapi saya puas karena telah memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai suatu proses rekrutmen dan seleksi tenaga kerja. Pertanyaan sesederhana “Apa sih yang dicari perusahaan dari seorang pelamar?” bisa membutuhkan jawaban yang panjang dan serba tergantung. Tergantung itu perusahaan apa, jabatannya apa, job desc nya apa, dan budaya organisasinya bagaimana.

PERUBAHAN

Perubahan yang saya rasakan dalam pembelajaran ada dua sudut pandang. Pertama dari diri sendiri, ke dua dari mahasiswa. Saya pribadi yang awalnya berpikiran bahwa literasi adalah soal membaca, menulis, dan buku saja, ternyata merupakan salah satu miskonsepsi. Konsep literasi berkembang lebih jauh daripada itu. Literasi adalah soal bagaimana mendekatkan anak didik pada konteks sekitarnya, lalu mengajak mereka memahami, berpikir kritis, dan menuangkan gagasan sesuai kebutuhan. Dengan pemahaman yang benar, saya berharap mereka mampu menggunakan cara pikir demikian pada situasi apapun di kehidupan sehari-hari. Ke dua, umpan balik dari mahasiswa meskipun sangat beragam, tapi sebagian besar menyatakan lebih memahami materi itu setelahnya. Lebih terbayang bagaimana proses yang dilalui oleh seorang HRD mulai dari membuat analisis jabatan hingga mengambil keputusan dalam bidang sumber daya manusia.

Terakhir, setelah saya menulis panjang lebar di atas dan hasil mengobrol dengan rekan-rekan guru lain, saya mulai menemukan titik terang tentang inti dari segala inti literasi. Yaitu BE-LA-JAR. Ya, belajar. Sebuah proses perubahan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan perilaku yang relatif menetap, sebagai akibat dari latihan dan pengulangan terus-menerus. Berliterasi adalah belajar. Belajar untuk menjadi cakap. Cakap untuk meningkatkan taraf kehidupan manusia sesuai kebutuhan masing-masing.

Tulisan ini kali pertama diterbitkan di Surat Belajar Guru Belajar Edisi ke-1 Tahun Keempat, 31 Januari 2019 oleh Komunitas Guru Belajar Nusantara.

One thought on “Literasi Itu Perkara Isi Kepala, Bukan Isi Buku”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *