Observasi Lapangan Untuk Psikologi Perkembangan

KONDISI AWAL

Kelas yang akan saya ceritakan kali ini adalah kelas Mata Kuliah Psikologi Perkembangan, yang secara umum memelajari perkembangan manusia sepanjang hayat. Mulai dari sebelum lahir hingga menjelang ajal. Baik dari perkembangan fisik, kognisi, sosioemosional, dan konteks yang melingkupinya. Pemrograman minat studi mahasiswa awalnya baru dilakukan pada semester tujuh, yaitu apakah mahasiswa lebih minat pada konsentrasi Psikologi Pendidikan, Psikologi Klinis, Psikologi Industri dan Organisasi, atau Psikologi Sosial.

Hal ini mengakibatkan mahasiswa masih banyak yang bingung ketika akan menentukan judul skripsi. Dan sebenarnya dampak utama adalah mahasiswa ketika akan lulus masih gamang dalam menentukan ia ingin menjadi ahli di bidang Psikologi apa, atau ingin bekerja dalam setting Psikologi yang seperti apa. Apakah di sekolah, rumah sakit, lembaga masyarakat, perusahaan, instansi pemerintah, atau berwirausaha.

Tujuan praktik mengajar saya berupa kuliah lapangan kali ini adalah mengidentifikasi sejak dini minat studi Psikologi masing-masing mahasiswa, yang ketika itu duduk di semester dua. Harapan saya, agar mahasiswa mampu mengenali minatnya dan menentukan sejak awal ingin menekuni bidang Psikologi apa selama tiga tahun ke depan.

TANTANGAN

Tantangan yang saya rasakan sebagai dosen pengampu adalah ketika akan menentukan lokasi kuliah lapangan. Kampus belum banyak memiliki jaringan dengan lembaga yang saya bayangkan. Saya membayangkan mahasiswa perlu tiga lokasi untuk kuliah lapangan dan pengambilan data, berupa observasi dan wawancara. Untuk mewakili beberapa konsentrasi psikologi, saya mencari tempat yang menyediakan “subjek” usia kanak-kanak, remaja, dan lanjut usia. Untungnya untuk subjek anak-anak, salah satu teman saya memiliki Sekolah Alam pada jenjang playgroup dan TK. Untuk subjek remaja, saya ingin mencari yang unik, tapi masih sulit aksesnya.

Misalnya ke penjara, komunitas punk, atau yang lain. Untuk lanjut usia, saya mencari panti jompo, tapi tidak mudah juga. Ada Vihara dan pondok lansia dekat rumah saya, tapi belum cukup menarik. Setelah bertanya kesana-kemari, akhirnya saya mendapatkan akses (yang lagi-lagi ternyata teman saya sendiri) yang keluarganya memiliki sebuah yayasan besar. Dua diantaranya adalah Pondok Singgah Sapu Jagad yang merehabilitasi pecandu narkoba dan orang-orang dengan gangguan jiwa serta Pondok Lansia berbasis ajaran tarekat yang berisi puluhan nenek dan kakek yang memutuskan menghabiskan sisa hidupnya untuk beribadah di sana. Lokasi keduanya di Pare, Kabupaten Kediri. Masalah terpecahkan.

AKSI

Persiapan pertama yang kami lakukan di kelas adalah pembagian kelompok. Mahasiswa saya minta memilih salah satu lokasi untuk kuliah lapangan sesuai dengan minatnya. Yang minat berinteraksi dengan anak-anak bisa memilih mengunjungi playgroup dan TK Ramadhani, Kecamatan Mojoroto. Yang minat melihat dan mewawancarai para pecandu narkoba dan orang dengan gangguan jiwa bisa memilih mendatangi Pondok Singgah Sapu Jagad. Dan yang minat menggali lebih dalam soal motif dan kondisi para lansia yang puluhan tahun mondok dan terpisah dari anak cucunya, dapat melihatnya di Pondok Lansia Roudlotul Ulum, Kencong, Kecamatan Pare. Mahasiswa merdeka menentukan pilihan belajarnya.

Mereka juga belajar untuk menghadapi konsekuensi masing-masing. Misal ketika berhadapan dengan anak kecil harus lebih sabar. Jika menghadapi pecandu narkoba harus membawa satu pak rokok dan menyisihkan ketakutannya, bersikap santai dan senormal mungkin. Jika berkomunikasi dengan para lansia harus terampil berbahasa Jawa halus dalam bertanya dan menanggapi, serta menghindari kalimat-kalimat yang sensitif yang berpotensi melukai hati beliau-beliau ini. Kedua, mahasiswa mendaftar pertanyaan yang relevan dengan studi yang sedang kami bahas, kemudian merangkumnya dalam sebuah format observasi dan wawancara yang siap dipakai untuk turun ke lapangan. Ketiga, pelaksanaan di lokasi masing-masing dengan segala dinamikanya.

PELAJARAN

Terakhir, minggu berikutnya ketika kami bertemu kembali di kelas, kami melakukan refleksi terhadap proses dan hasil kuliah lapangan. Ada beberapa umpan balik yang saya dapatkan dari mahasiswa dan saya sangat senang mengetahuinya. Misal mahasiswa mengatakan waktunya terlalu singkat untuk menggali informasi, juga waktunya terlalu panjang karena mulainya molor, kealpaan saya meminta mereka membawa makan siang padahal jam melewati Dhuhur, dan ada satu-dua subjek yang karakteristiknya tidak sesuai dengan sasaran kegiatan awal.

Secara positif, mereka mengatakan:

Saya sangat senang terbebas dari rutinitas kuliah yang menjemukan di kelas sepanjang satu semester, Bu!”

Saya mendapat insight bahwa mungkin ketika orangtua saya nanti sudah lanjut usia, sepertinya bagus juga jika dimasukkan ke pondok itu!”

Saya justru nggak mau ortu saya masuk pondok Bu, karena kasihan”, ujar salah seorang mahasiswa.

Penanganan terhadap orang dengan gangguan jiwa ternyata belum optimal ya Bu. Masih minim tenaga profesional, sehingga di situlah letak kebutuhan para ahli dan lulusan Psikologi di masyarakat.”

Terakhir, di sekolah alam yang konsepnya masih awam untuk mahasiswa, mereka mendapat banyak tambahan informasi mengenai apa itu sekolah alam, bagaimana anak-anak dimerdekakan dalam belajar, melihat suasana sekolah dengan halaman kebun yang sangat luas, memanfaatkan segala potensi alam yang ada untuk pembelajaran, dan sebagainya. Refleksi dari diri saya pribadi sebagai dosen, saya menjadi tahu ragam minat masing-masing mahasiswa dalam belajar Psikologi. Dan hal itu salah satu poin kecil tolok ukur keberhasilan pengajaran bagi saya.

Tulisan ini kali pertama dipresentasikan dalam Temu Pendidik Nusantara 2017 di Jakarta, Konferensi Tahunan Komunitas Guru Belajar dengan judul “Pengalaman Menjalankan Studi Lapangan”.

2 thoughts on “Observasi Lapangan Untuk Psikologi Perkembangan”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *